Latar Belakang
Tahun Baru Islam merupakan momentum penting untuk melakukan perubahan karena—sebagaimana yang kita ketahui—penetapan tahun Islam didasarkan kepada Hijrah RasululLahu saw, dan Hijrah RasululLah beserta para sahabat itu erat kaitannya dengan perubahan, perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Momentum ini sangat tepat bagi kita—sebagai Partai Dakwah—beserta masyarakat untuk melakukan perbaikan dan perubahan.
Perbaikan dan peningkatan kualitas ruhiyah, fikriyah, amaliyah, dan ukhuwah kader dakwah menjadi yang harus didahulukan agar dapat mengajak masyarakat, dan membentuk masyarakat yang ingin berubah serta optimis untuk menuju Indonesia yang lebih baik.
Datangnya Tahun Baru Islam 1430H perlu diisi dengan berbagai kegiatan yang akan memantik proses perubahan dan kemenangan yang kita inginkan
Nama Program
Pekan Muharram
Tujuan
Menumbuhkan semangat juang kader dan masyarakat untuk berubah menuju kehidupan yang lebih baik.
Menyadarkan kader akan kesempatan berkontribusi social untuk meraih kemenangan.
Melakukan konsolidasi antar kader dan masyarakat.
Sasaran
Terkuatkannya ruhiyah kader dan masyarakat.
Terakomodasikannya harapan masyarakat akan kehidupan yang lebih baik.
Tersampaikannya informasi tentang perubahan dan langkah konkret mencapainya.
Terbentuknya opini positif terhadap tahun baru islam dan kinerja kader.
Terjalinnya interaksi saling menguntungkan antar kader dan masyarakat.
Tema Program
Hijrah Menuju Kepedulian untuk Mewujudkan Kesejahteraan Umat
Kegiatan
Muhasabah Dengan Keluarga Besar
Mabit dgn Masyarakat dan atau Mabit Kader
Tabligh Akbar
Kerjasama dengan Masjid
Tau’iyah dengan tulisan
Risalah Muharam
Pemasangan Spanduk
Membersihkan masjid
Menyantuni anak yatim
Seminar-seminar
Shaum muharram
Dalil-dalil Shaum ‘Asyuraa (tanggal 10 Muharram) dan Tasuu’a (tanggal 9 Muharram)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصُومُوا. رواه البخاري
“Dari Ibnu Abbas berkata: RasululLah saw datang di Madinah, saat itu Orang Yahudi berpuasa ‘Asyura [ke 10 Muharram] mereka berkata: hari ini adalah hari di mana Musa mengalahkan Firaun. Dan RasululLah saw berkata kepada para sahabatnya: kalian lebih berhak dari mereka atas Musa, untuk itu berpuasalah.” [H.R. Bukhari]
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ .... وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ. رواه مسلم
“Dari Abu Qatadah al-Anshariy r.a. bahwa RasululLah saw ditanya tentang puasa hari Arafah. RasululLah saw menjawab: menghapus [dosa] setahun yang lalu dan berikutnya. [ketika] ditanya tentang puasa ‘Asyura, menjawablah RasululLah: menghapus [dosa] setahun yang lalu.” [H.R.Muslim]
أَبُوْ غَطَفَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ حِينَ صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَنَا بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا يَوْمَ التَّاسِعِ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.رواه أبو داود
“Abu Ghathafan berkata: aku mendengar AbdulLah bin Abbas berkata: “Ketika RasululLah saw berpuasa hari ‘Asyura dan memerintahkan kami berpuasa. Mereka berkata: “Wahai RasululLah sesungguhnya hari itu adalah hari di mana Yahudi dan Nasrani mengagungkannya [Hari ‘Asyura’]. RasululLah saw menjawab: “Kalau tahun berikutnya kita akan berpuasa pada tanggaal hari sembilan. Tapi sebelum datangnya tahun berikutnya RasululLah saw wafat.” [H.R. Abu Dawud]
عَنْ حَاجِبِ بْنِ عُمَرَ عَنْ الْحَكَمِ بْنِ الْأَعْرَجِ قَالَ انْتَهَيْتُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ رِدَاءَهُ فِي زَمْزَمَ فَقُلْتُ أَخْبِرْنِي عَنْ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَيُّ يَوْمٍ هُوَ أَصُومُهُ قَالَ إِذَا رَأَيْتَ هِلَالَ الْمُحَرَّمِ فَاعْدُدْ ثُمَّ أَصْبِحْ مِنْ التَّاسِعِ صَائِمًا قَالَ فَقُلْتُ أَهَكَذَا كَانَ يَصُومُهُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ.رواه الترمذي
“Dari Hajib bin Umar, dari Hakam bin A’raj, berkata: aku menjumpai Ibnu Abbas, dan dia berbantalkan sorban di sekitar sumur Zam-zam, aku berkata: beritahu aku tentang hari ‘Asyura pada hari apa RasululLah saw. puasa, Ibnu Abbas menjawab apabila kamu melihat bulan Muharram hitunglah, berpuasalah di hari kesembilannya aku bertanya lagi demikiankah RasululLah saw berpuasa? Ibnu Abbas menjawab: “ya.”” [HR. Tirmidzi]
Penutup
Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita, untuk senantiasa menghidupkan ruh umat, agar dapat hidup bersama dengan Allah dalam segala keinginan dan aktivitasnya.
